Arah Berdoa Benar Menjadi Masalah

Konon, barat dan timur cuma arah. Tapi bagi cucu-cucu keturunan Abraham
yang saling ingin bersama. Arah berdoa benar menjadi masalah.

Lonceng gereja berbunyi, lelaki itu mencelupkan jari di air suci kemudian menaruh jarinya di kening, dada dan bahu kiri kanan.

Lama tak pergi ke gereja, ia merasa perlu duduk di barisan kedua dari depan. Lelaki itu berharap semakin dekat dengan altar maka ia akan semakin bisa dekat dengan Tuhan yang ia sembah.

Permintaannya sederhana, ia berharap diberi keberanian agar siap mengambil keputusan yang sebenarnya tak ingin ia ambil.

Detik demi detik berlalu. Lagu pembuka, doa pembuka, bacaaan sabda lalu khotbah dilakukan beriringan. Kaki lelaki itu mengetuk-ngetuk lantai gelisah. Ia mudah bosan, apalagi di dalam gereja saat orang-orang khusuk bergerak mengikut liturgi yang ada.

Lelaki itu pernah bertanya kenapa ia harus pergi ke gereja. Jawabannya sederhana, karena orang tuanya dan keluarganya sudah pergi ke gereja sejak ia belum hadir ke dunia. Meski ia tahu Tuhan itu ada, jarang sekali ia merasa diri-Nya hadir di dalam gedung tua yang biasanya megah, juga mewah.

Ia mengimani kata-kata Pater Rektornya ketika dulu bersekolah di seminari, “Tuhan itu hadir di antara orang papa dan tertindas”. dan tugas kita untuk membelanya.

Buat lelaki itu, gereja bukan tempat berdoa, meski imannya sama dengan apa yang gereja ajarkan. Gereja adalah identitas, di mana budaya, keluarga, jenjang pendidikan dan sejarah hidupnya dihabiskan di sana.

Setiap minggu, ia bersama keluarga menghabiskan waktu bersama di sana. Setiap jumat, ia bersama teman-teman beraktifitas di sana. Bahkan ketika SMA, hampir sepenuh hidupnya dihabiskan untuk melayani di sana.

Berjarak dua orang di sisi kanan, seorang lelaki berpakaian kemeja coklat coba menenangkan anak perempuannya yang berusia sekitar 6 tahun. Anak itu gelisah duduk diam berlama-lama. Segera ia bertanya pada bapaknya kenapa si ibu dan adik lelakinya tidak ikut mereka ke gereja. Jawaban pelan si ayah mengejutkan lelaki itu. “Mama sama adik kamu ngga akan ikut kita ke gereja, kalau kamu sayang sama papa, kamu mesti ke gereja tiap minggu sama papa.”

Lelaki itu mendadak sedih. Ia melihat si ayah adalah gambaran dirinya di masa depan.

Khotbah selesai, konsekrasi dijalankan lalu hosti dibagikan. Anak-anak berbaris mengular menunggu berkat dari pastur. Setuntas menyelesaikan piala, pastur dengan ramah menyambut anak-anak dan membubuhkan tanda Salib di kening mereka, tanda berkat sudah ada.

Lelaki itu tersenyum simpul. Ia melihat dirinya waktu kecil ada di barisan itu.

Tak lama lelaki itu menelan ludah, terasa asam. Di barisan itu ia melihat, di masa depan, mungkin anaknya tidak akan ada di sana.

Berkat belum selesai dibagikan, namun ia keluar gereja dengan langkah gontai. Waktu itu pukul enam sore, adzan maghrib mulai berbunyi nyaring dari pengeras suara di dekat bandara.

Ia mendapatkan jawaban atas keraguannya. Kali ini ia yakin untuk mengakhiri apa yang seharusnya sudah lama diakhiri. Saat itu juga ia merasa kepahitan memenuhi rongga dada.

Konon, barat dan timur cuma arah.
Tapi bagi cucu-cucu keturunan Abraham
yang saling ingin sims freeplay hacks bersama.
Arah berdoa benar menjadi masalah.

Suatu hari Minggu, beberapa bulan lalu.

By | 2017-06-21T15:35:30+00:00 May 9th, 2017|Latest Articles, Personal Journal|